We Are Creative Design Agency

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Illum, fuga, consectetur sequi consequuntur nisi placeat ullam maiores perferendis. Quod, nihil reiciendis saepe optio libero minus et beatae ipsam reprehenderit sequi.

Find Out More Purchase Theme

Our Services

Lovely Design

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Great Concept

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Development

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

User Friendly

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Recent Work

Tampilkan postingan dengan label Character Building. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Character Building. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

Bagaimana Mengelola Waktu Lebih Efektif ??

Mengelola waktu lebih efektif adalah kunci kualitas kehidupan yang lebih baik. Orang yang pandai mengelola waktu hidupnya secara efektif dan efisien hidupnya pasti lebih bermakna. Kita semua punya jatah waktu 24 jam dalam sehari, tapi tidak semua orang berhasil memanfaatkannya untuk mencapai kebahagian yang diinginkannya.

Where did the good times go? Where did the good times go? Good times so hard to hold. Good times so hard to hold. –Verve, This Time.

Bagaimana mengelola waktu lebih agar lebih efektif dan efisien?

1. Bagi waktu anda dalam 3 zona.
Masing-masing zona waktu terdiri dari 8 jam.
  • 8 jam pertama: Istirahat.
  • 8 jam kedua: bekerja
  • 8 jam ketiga: menikmati hidup.

2. Pahami Apa yang harus di lakukan dalam masing-masing zona waktu.
  • 8 jam pertama (istirahat) untuk dioptimalkan. Kuncinya adalah bukan berapa banyak waktu yang anda gunakan untuk tidur atau istirahat, tapi seberapa optimal waktu tidur anda. Orang yang tidurnya optimal bisa memulihkan energi dengan lebih baik meski hanya dalam waktu 4 jam.
  • 8 jam kedua (bekerja) untuk diproduktifkan. Sama dengan waktu tidur, kuncinya adalah bagaimana menghasilkan lebih banyak dengan waktu dan energi yang lebih sedikit. Bahkan dalam buku terlaris, “The Power of Full Engagement: Managing Energy, not Time” karangan Jim Loeke dan Tony Schwaltz dikatakan bahwa kekuatan anugerah terbesar manusia adalah energi bukannya waktu.
  • 8 jam ketiga (menikmati hidup) untuk dimanfaatkan. Hidup itu bukan hanya untuk bekerja untuk makan, makan untuk hidup. Tapi juga Hidup untuk menikmati kehidupan. Berkarya, melakukan hal-hal yang kita cintai.
Penjelasan lebih lengkap untuk masing-masing zona waktu akan saya post di artikel selanjutnya.
3. Cerdas Memanfaatkan Celah.
8 Jam zona waktu itu tentu tidak pasti 8 jam. Kita hanya membaginya menjadi 3 zona besar. Tentu dalam pergantian dari satu zona ke zona lainnya kita tidak bisa pas 8 jam. Nah, memanfaatkan waktu yang ada tersebut adalah salah satu cara untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Intinya adalah jangan sampai ada waktu yang terbuang sia-sia, hanya untuk bengong. Misalnya perjalan pulang di bus, dari pada bengong, mending baca-baca buku. Atau menulis hal-hal yang bermanfaat.
4. Memotong Penggunaan Waktu Yang Tidak Penting.
Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk menonton televisi? ngerumpi? sms-an tidak jelas? Kalau kita bisa mengganti penggunaan waktu itu dengan hal-hal yang lebih bermanfaat, pasti hidup kita akan lebih menyenangkan. Bagaimana cara memotong penggunaan waktu yang tidak penting? Sama seperti bagaimana menghilangkan kebiasaan buruk, hal ini bisa dilakukan dengan menghubungkan hal-hal jelek dengan hal tersebut.
5. Mengetahui Waktu-Waktu Efektif Kita.
Ada orang yang senang bekerja di pagi hari, ada juga yang senang bekerja ketika malam gelap. Ada yang senang berolahraga siang hari, ada yang senang sore, atau malam. Ada yang merasa tidurnya lebih nyenyak di siang hari ketimbang malam hari. Tak ada yang salah. Yang penting adalah kita mengetahui waktu-waktu efektif diri kita. Manajemen Waktu bukan hanya masalah melakukan banyak hal dalam waktu yang sedikit, tapi juga melakukannya pada waktu-waktu yang tepat.
6. Tentukan Tujuan dan cara untuk mencapai tujuan itu.
Sebelum melakukan apapun pastikan anda memulainya dengan tujuan akhir di kepala. Begitu kata Stephen Covey. Serta miliki list to do (daftar hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu).
7. No Multitasking!
Ada yang senang melakukan 2-3 pekerjaan dalam sekali waktu. Kalau anda benar-benar pakar mungkin ini bisa anda lakukan. Namun bagi saya, lebih baik menyelesaikan satu pekerjaan dengan total, daripada melakukan tiga pekerjaan dengan setengah-setengah.
8. Tulis! Pajang!
Buat agenda perencanaan. Tulis semua hal diatas. Menulis memang tidak menjamin anda mengelola waktu dengan lebih efektif. Tapi membantu anda untuk selalu berada pada jalur yang tepat. Kalau sesuatu yang ditulis saja bisa lupa, bagaimana yang tidak di tulis. Tulis dan pajang di tempat yang paling sering anda lihat.



Kamis, 17 November 2011

Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence)

Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada anak-anak. Orang-orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri, menderita kekurangmampuan pengendalian moral.

Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.

Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain. Menurut Harmoko (2005) Kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Jelas bila seorang indiovidu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.

Sedangkan menurut Dio (2003), dalam konteks pekerjaan, pengertian kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengetahui yang orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk menangani masalah. Orang lain yang dimaksudkan disini bisa meliputi atasan, rekan sejawat, bawahan atau juga pelanggan. Realitas menunjukkan seringkali individu tidak mampu menangani masalah–masalah emosional di tempat kerja secara memuaskan. Bukan saja tidak mampu memahami perasaan diri sendiri, melainkan juga perasaan orang lain yang berinteraksi dengan kita. Akibatnya sering terjadi kesalahpahaman dan konflik antar pribadi.

Berbeda dengan pemahaman negatif masyarakat tentang emosi yang lebih mengarah pada emosionalitas sebaiknya pengertian emosi dalam lingkup kecerdasan emosi lebih mengarah pada kemampuan yang bersifat positif. Didukung pendapat yang dikemukakan oleh Cooper (1999) bahwa kecerdasan emosi memungkinkan individu untuk dapat merasakan dan memahami dengan benar, selanjutnya mampu menggunakan daya dan kepekaan emosinya sebagai energi informasi dan pengaruh yang manusiawi. Sebaliknya bila individu tida memiliki kematangan emosi maka akan sulit mengelola emosinya secara baik dalam bekerja. Disamping itu individu akan menjadi pekerja yang tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan, tidak mampu bersikap terbuka dalam menerima perbedaan pendapat , kurang gigih dan sulit berkembang.

Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).

Selasa, 15 November 2011

KADERISASI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER

“Jika ingin memanen dalam 3 bulan, maka tanamlah padi, jika ingin memanen dalam 10 tahun maka tanamlah pohon, tapi jika mengharapkan perubahan 100 tahun kedepan didiklah sebuah generasi”.

Dalam ungkapan di atas menujukkan sebuah fakta yang layak kita pikirkan dengan hati nurani dan keseriusan, bahwa mendidik sebuah generasi untuk transisi dan regenerasi adalah mutlak jika kita menginginkan sebuah perubahan menuju perbaikan. Kata regenerasi identik dengan pemuda, maka tak heran ketika Bung Karno mengatakan “Berikan Aku sepuluh pemuda maka Aku akan mengubah negri ini”. Ini membuktikan bahwa peran pemuda sangat dibutuhkan untuk sebuah regenerasi. Begitu juga dengan Bung Tomo yang berhasil memukul mundur penjajah di kota Pahlawan Surabaya yang tak lain lakonnya adalah para pemuda Arek-arek Suroboyo, dan banyak lagi sejarah ataupun peristiwa yang digagas oleh para pemuda.

Berbicara tentang pemuda, negeri ini sedang di uji dengan bergabungnya beberapa pemuda di gedung parlemen, akankah peran pemuda tersebut membawa perubahan pada negri ini? kita lihat saja nanti satu dua tahun mendatang, dan inilah awal regenerasi yang diterapakan secara perlahan.

Dalam mendidik sebuah generasi untuk transisi dan regenrasi perlu adanya sebuah kaderisasi. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa itu kaderisasi? Untuk siapa kaderisasi itu? Perlukah kaderisasi itu?
Apa yang anda pikirkan ketika pertama kali mendengar kata kaderisasi?

Kaderisasi merupakan sebuah transformasi nilai-nilai dan sebuah proses pengoptimalan potensi-potensi manusia. Jadi, kaderisasi disini identik dengan pendidikan ataupun pembinaan. Pendidikan yang memang sejatinya mahasiswa jalankan di sebuah kampus. Memaknai pendidikan pun juga harus dilihat secara integral, yang mana seseorang dituntut untuk memiliki hardskill, softskill dan lifeskill agar dirinya dapat menjadi seorang pribadi yang utuh secara karakter.

Hardskill adalah hal-hal yang berkaitan dengan kompetensi akademik dan profesi. Kemampuan ini secara teori bisa didapat dibangku perkuliahan, dan secara aplikasi bisa dikembangkan di lapangan maupun diwadahi oleh lembaga kemahasiswaan (Lembaga Minat Bakat). Softskill adalah hal-hal terkait kemampuan intrapersonal seseorang yang bisa sangat berguna dalam menjalankan kehidupan sosial. Seperti kemampuan memimpin (leadership), bekerjasama (teamwork), berbicara di depan umum, manajemen diri dan waktu. Untuk softskill ini bisa didapatkan melalui pengalaman. Peran lembaga kemahasiswaan adalah membuat wadah untuk para mahasiswa agar mereka bisa mengaktualisasikan dirinya, serta yang terakhir adalah lifeskill yang berkaitan dengan idealisme seseorang yang akan menjadikan landasan bagi dirinya dalam menjalankan aktifitasnya. Pentingnya idealisme dalam diri seseorang akan berdampak pada visi yang jelas dalam kehidupannya serta akan bermanfaat pula untuk lingkungan sekitar.

Pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi yang diberikan oleh Tuhan, dan karakter manusia sangat ditentukan oleh lingkungan. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh masa lalu, teman sepermainan, kawan yang beraktifitas bersama, lingkungan akademik yang juga membentuk pola pikir, serta lingkungan kampus yang juga dapat mempengaruhi dalam pembentukan karakter. Sehingga bisa dikatakan lingkunganlah yang akan membuat seseorang menemukan karakternya.

Character Building

Membangun karakter atau yang lebih populer dengan istilah Character Building, merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Istilah ini biasanya banyak dijual di kursus-kursus kepribadian, bahkan diobral di seminar-seminar yang bertajuk pengembangan diri, entah itu dalam bentuk implementatif maupun hanya sekedar teori. Oleh karenanya wajar apabila kemudian timbul pertanyaan dari pembaca yang budiman : “Membangun karakter? Apa, sih? Cape, deh!”

Sebagaimana yang telah kita pahami bersama, pengertian karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, seperti tabiat, watak, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Sedangkan pengertian dari membangun adalah proses pengolahan dan pembentukan suatu unsur atau materi yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru dan berbeda. Dari kedua pengertian tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa membangun karakter adalah suatu proses pembentukan watak atau budi pekerti. Tentunya dalam pengertian yang positif, tujuan dari pembentukan watak atau budi pekerti di sini adalah menjadi lebih baik dan terpuji dalam kapasitasnya sebagai pribadi yang mempunyai akal budi dan jiwa.

Pertanyaan berikutnya : So what gitu, lho? Apa hubungannya dengan kita-kita yang ada di Pengadilan Pajak? Adakah dia bisa membuat kita lebih cantik atau ganteng, kelihatan lebih seksi dan awet muda? Jawabannya adalah ya! Why not? Apabila hal tersebut kita kaitkan dengan inner beauty atau inner handsome, tentu pribadi yang baik dan jiwa yang sehat akan memancarkan aura yang positif yang bisa membuat kita kelihatan lebih cantik atau tampan, seksi, dan awet muda.

Dalam perspektif yang lebih luas, hal tersebut dapat kita korelasikan dengan harapan dan usaha kita untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik. Sebagaimana kita mahfum, gaji dan tunjangan yang kita terima setiap bulannya, sebagian besar bersumber dari pajak yang dipungut oleh Negara dari rakyat, dan hal itu bisa diartikan bahwa sejatinya kita ini adalah pegawainya rakyat, maka sebagai pegawai rakyat, kita wajib untuk bekerja seoptimal mungkin untuk rakyat. Paradigma bahwa Pegawai Negeri adalah Penguasa (The Lord) yang bisa bersikap seenaknya dan sewenang-wenang kepada rakyat, semestinya diubah menjadi Pegawai Negeri yang berkarakter (terpuji), yaitu Pegawai Negeri yang mendefinisikan dan memosisikan diri sebagai Pelayan Rakyat (Public Servant).

Lalu pertanyaannya sekarang : How? Dengan cara apa kita bisa membangun karakter yang terpuji itu? Jawabannya adalah banyak cara untuk itu, baik melalui pendidikan formal dan informal, maupun melalui aktualisasi diri. Salah satu cara yang telah diupayakan Sub Bagian Kepegawaian/Sumber Daya Manusia di Pengadilan Pajak adalah melalui pendidikan informal, yaitu training ESQ. Fenomena training ESQ beberapa waktu yang lalu bisa kita ibaratkan sebagai oase di padang yang tandus. Meski efek positifnya hanya terasa kurang-lebih seminggu, namun hal tersebut memberikan secercah harapan bahwa sesungguhnya kita masih mempunyai hasrat untuk introspeksi diri demi menjadi pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, baik kepada diri sendiri, negara, bangsa, dan tentunya kepada Tuhan Yang Mahaesa. Betapa meruginya kita, apabila penyesalan dan linangan air mata yang tumpah-ruah pada saat itu, menjadi sia-sia hanya karena kita mengulangi lagi perbuatan buruk yang telah kita sesali.

Adapun pendidikan formal sebagai salah satu instrumen dalam membangun karakter adalah dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan formal secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada pengembangan karakter individu seseorang. Pola pikir seorang Doktor dan Master yang sudah terbiasa menganalisa suatu obyek atau pokok permasalahan secara lebih mendalam dan mendetail, semestinya akan berbeda dengan seorang Sarjana Strata Satu yang dididik dengan teori-teori dan aplikasinya yang masih bersifat umum.

Upaya membangun karakter melalui aktualisasi diri, bisa kita lakukan dengan ikut aktif dalam berbagai kegiatan, baik di lingkungan tempat kerja maupun masyarakat. Aktulisasi diri di lingkungan masyarakat bisa dilakukan dengan aktif di kegiatan dengan lingkup yang kecil seperti RT, RW, atau aktif di lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, seperti LSM, atau di lembaga-lembaga keagamaan, seperti forum pengajian atau persekutuan gereja. Sedangkan aktualisasi diri di lingkungan tempat kerja kita di Pengadilan Pajak, bisa dilakukan dengan ikut aktif di pengadaan, maupun di berbagai kegiatan PIU, seperti CMCAS, Transformasi SDM, dan Survei Kepuasan Stakeholder. Akhirnya, selain instrumen-instrumen yang sudah dijabarkan di atas, ada satu hal yang sangat prinsip dan merupakan kata kunci atau main point, yakni keinginan untuk berubah menjadi lebih baik sesungguhnya berpulang pada moral choice (keputusan moral) pada masing-masing individu itu sendiri. Pendidikan formal, training ESQ, aktualisasi diri, atau kegiatan apapun yang sejenis, hanyalah media atau instrumen belaka. Semuanya akan menjadi tidak berarti, apabila di dalam diri individu yang bersangkutan tidak ada keinginan yang kuat (spirit) untuk berubah.

Tingkat Empati Seseorang Dipengaruhi Gen

Perilaku sosial seseorang bisa menunjukkan seberapa besar tingkat empatinya (perasaan memahami orang lain). Dan orang-orang yang memiliki gen prososial adalah orang-orang yang tingkat empatinya tinggi. Seperti apa gen-gen yang bikin orang punya tingkat empati yang tinggi.

Berdasakan hasil penelitian orang dengan gen prososial menunjukkan sikap lebih peduli dengan perilaku nonverbal seperti anggukan kepala, tersenyum dan kontak mata, sambil mendengarkan orang yang dicintai menceritakan sesuatu.

Orang dengan gen prososial juga dinilai sebagai orang yang lebih berempati pada orang asing yang mengawasi mereka selama 20 detik. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.

"Hasil penelitian kami menunjukkan sedikit variasi genetik mungkin memiliki dampak yang nyata pada perilaku di masyarakat," kata Aleksandr Kogan dari University of Toronto, dalam rilis berita seperti dilansir dari WebMD, Selasa (15/11/2011).

Sebanyak 23 pasangan romantis diamati tingkat empatinya ketika mendengarkan pasangannya bercerita. Sebelum direkam, setiap peserta diuji untuk gen tertentu yang terkait dengan oksitosin. Oksitosin adalah hormon yang memainkan peran dalam sosialisasi, ikatan pribadi, dan perilaku maternal. Hormon tersebut sering disebut sebagai hormon cinta.

Hasil penelitian sebelumnya telah menunjukkan:
  1. Orang dengan dua salinan dari versi G dari gen, cenderung lebih prososial dan berperilaku dengan cara yang dapat menyenangkan orang lain.
  2. Orang dengan versi A dari gen, cenderung memiliki tingkat yang rendah dari empati dan memiliki risiko tinggi autisme.

Kemudian dilakukan juga penelitian pada kelompok orang asing yang berjumlah 116 orang. Kelompok ini diminta menonton 20 klip video bisu dan diberi nilai seberapa baik ia mendengarkannya, dapat dipercaya dan kepeduliannya yang didasarkan pada bahasa tubuh.

Hasil penelitian menunjukkan:
  1. Orang dengan variasi genetik GG dinilai lebih empati dibandingkan dengan orang-orang dengan variasi lainnya.
  2. Enam dari 10 orang yang dinilai oleh pemirsa sebagai yang paling empati membawa variasi genetik GG.
  3. Sedangkan 9 dari 10 orang yang dinilai sebagai empati yang rendah setidaknya memiliki variasi genetik A.

Sungguh menakjubkan bahwa kelompok yang menonton tersebut dapat sangat akurat menilai tingkat empati seseorang sesuai dengan gen yang dipunyai orang yang ditonton tersebut.

"Hal tersebut masuk akal bahwa sebuah gen penting untuk pengolahan perilaku sosial. Hasil studi lain telah menunjukkan bahwa, orang yang secara baik menilai orang berdasarkan kesan pertama benar-benar sesuai," kata Sarina Rodrigues Saturn, PhD, asisten profesor psikologi di Oregon State University.

Para peneliti mengatakan hasil penelitian menunjukkan perbedaan pada gen reseptor oksitosin dapat mempengaruhi perilaku sosial. Orang-orang tanpa versi gen prososial mungkin lebih perlu untuk dilakukan pendekatan agar lebih menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

"Memang tidak mungkin jika memperbaiki orang-orang yang menunjukkan sifat-sifat sosial yang kurang baik. Tetapi dapat diketahui mereka mengatasi suatu sifat yang dipengaruhi oleh variasi genetik. Dalam mengahdapi orang-orang dengan sikap sosial yang kurang baik mungkin perlu pemahaman dan dorongan yang lebih," kata Saturn.

(detikhealth)

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567






PARIWARA

PKBM YASEMA
Pusat Remaja YASEMA
Jasa Buat Blog
Pesan Pasang Iklan
Pesan Disini!
Blog     Gambar     Video     Berita    
Topik Pilihan : Puisi Buat Guru     Pedoman BKR     Generasi Berencana     Terlambat Datang Bulan     Posisi Sex